 | terra incognita | |
|  | Hakikatnya manusia berputar karena ada atom di tubuhnya yang berputar menggerakkan sel sehingga darah dapat beredar.
Kehidupan manusia pun berputar melewati beberapa fase.
Dari tanah berputar melewati berbagai fase hidup, akhirnya kembali lagi menuju tanah. |
|  | Rangkas Bitung railway station, one of the old station in Indonesia. Began operations in July 1, 1900 and until today still operate properly. Built with the aim to support transportation Rangkas Bitung city at that time as an industrial city in Banten based plantations.
|
The Colors Of Women Perbedaan gender mengacu pada perbedaan respon terhadap warna. Banyak yang setuju tentang itu. Namun, benarkah demikian? ~Color studi in Gender~ Studi awal dilakukan Guilford [1934] mengenai kombinasi harmoni warna, menjelaskan bahwa seseorang lebih menyenangi warna yang masih berkaitan. Ini lebih banyak terjadi pada wanita dibandingkan pria. Dalam studi serupa yang dilakukan eysenck terdapat sebuah perbedaan preferensi warna: wanita lebih menyenangi warna kuning dibandingkan Orange, dan pria lebih memilih orange dibandingkan wanita. Hal ini diperkuat study Barren dimana wanita memposisikan warna orange di urutan terbawah. Pada studi selanjutnya, Guilford dan Smith menemukan bahwa wanita lebih peka terhadap warna, dan selera mereka terhadap warna lebih fleksibel dan beragam. McInnes dan Shearer menemukan bahwa warna hijau kebiruan [turquoise] lebih disukai wanita dibandingkan pria. Studi ini melaporkan 56% pria dan 76% wanita lebih menyukai warna-warna teduh [cool colors], sementara 51% pria dan 49% wanita memilih warna-warna terang [bright colors] Richard Kuller melakukan studi efek warna. Enam wanita dan enam pria diminta untuk tinggal dalam 2 kamar, salah satu ruangan berwarna-warni dan kompleks, kamar lainnya berwarna abu-abu dan simple. Mesin EEG [electroencephalogram] dan penghitung detak jantung mereka kondisi emosional mereka. Hasilnya detak jantung mereka lebih cepat dalam kamar abu-abu daripada kamar berwarna. Ditemukan pula tendensi, pria lebih stress dibandingkan wanita di dalam kamar abu-abu. Sementara studi di era 90-an yang dilakukan Radeloff menemukan bahwa wanita lebih cenderung memiliki warna favorit dibandingkan pria. Namun, tidak ditemukan perbedaan signifikan mengenai preferensi antara warna terang dan warna gelap pada pria dan wanita. Womens favorite colors Biru Warna favorit bagi pria dan wanita dan seluruh kelompok usia. Efek tenang dari biru diasumsikan sebagai faktor kuat bagi popularitas biru. Hijau Dianggap sebagai warna wanita karena istilah gender pada mother nature [alam semesta]. Juga merupakan warna favorit bagi pria dan wanita. Hijau juga berarti tenang, santai, pembaharuan, kesehatan, dan lingkungan. Turquoise [hijau kebiruan] Menurut studi McInnis dan Shearer wanita lebih menyukai warna turquoise daripada pria dan 70% wanita memilih warna-warna teduh. Turquoise adalah campuran dua warna teduh, biru dan hijau. Ungu Sangat dikonotasikan sebagai warna wanita, karena secara eksklusif disukai wanita dan dijauhi pria. Ungu berasosiasi dengan kebangsawanan, juga spiritual, romantisme dan misterius. Merah jambu [pink] Banyak yang mengira jika merah jambu adalah warna feminism, warna bagi wanita muda [anak-anak], namun, bukan berarti setiap wanita memilih warna jambu sebagai warna favorit. Merah jambu dan wanita lebih kepada ikatan kultur daripada preferensi. Ikatan kultur ini yang mengakibatkan merah jambu dijauhi kaum pria. Lavender Versi yang lebih popular dari warna merah jambu adalah warna lavender. Berasosiasi dengen warna nostalgia dan romansa bagi wanita. Lavender adalah salah satu sari warna lembut yang banyak disukai wanita, menurut studi tahun 1990. ~Hallock’s Color Poll~ Joe Hallock melakukan polling riset pada tahun 2003. Polling tersebut menghasilkan warna biru sebagai warna favorit [42%] dari delapan warna [juga hitam dan putih] yang tercantum pada kuisioner termasuk warna yang disukai wanita [35%], meskipun warna biru sering dihubungkan dengan kesedihan dan depresi. Biru menjadi warna favorit karena efek tenang dan rileks yang terpancar. Sementara, warna orange menjadi warna yang paling tidak disenangi wanita 
 
Sumber: Plasa Senayan Montly Magazine, edisi April 2010
|  | survey darat ini bertujuan untuk mencari lokasi alternatif arung jeram di sungai-sungai wilayah kota jogja.
sungai yang berhulu di sungai gendol, gunung merapi debit airnya sangat ditentukan pada curah hujan yang terjadi di daerah lereng selatan merapi.
lokasi survey adalah bagian kecil dari aliran sungai opak yang mengalir di sisi kanan kompleks candi prambanan, dan dibeberapa spot masih bisa dinikmati pengarungan dengan latar belakang candi prambanan.
|
 | Category: | Books | | Genre: | Outdoors & Nature | | Author: | National Geographic Traveler |
Merupakan panduan 55 tempat terbaik dengan pengkategorian jenis wisata di indonesia plus 1 buah tempat wisata di benua Afrika, antara lain: wisata keluarga, wisata petualangan, wisata keindahan alam, wisata romantis, wisata spiritual.
Tempat wisata ini merupakan kumpulan beberapa penulis yang ahli dibidangnya, antara lain: Ripto Mulyono, Tantyo Bangun, Dwi Oblo, dll.
Setiap artikel tempat wisata dilengkapi dengan photo yang menjadi standar National Geographic, peta, dan jalur untuk mencapai lokasi dan tips, sehingga menjadi salah referensi untuk memulai kegiatan petualangan anda. 
Link: http://www.scribd.com/doc/15080623/Evaluation-Of-Registration-And-Documentation-Management-Based-On-Museum-Directorate-Standard-Department-Of-Culture-And-Tourism-Study-Case-YogyakartEvaluasi Sistem Manajemen Registrasi Dan Dokumentasi Berdasarkan Standar Direktorat Museum, Departemen Kebudayaan Dan Pariwisata (Studi Kasus:Museum Batik Yogyakarta).
Penulis : Tulus Wichaksono Tahun lulus : 2008 Pembimbing : Drs. Djoko Dwiyanto, M.Hum.
Topik: Mengetahui keserasian sistem registrasi dan dokumentasi di Museum Batik Yogyakarta yang terletak di Jalan Dr. Sutomo, Yogyakarta dengan sistem yang digunakan oleh Direktorat Museum, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dengan metode evaluasi sehingga nantinya akan memberikan rekomendasi untuk pengembangan museum di masa mendatang.
Permasalahan dan tujuan: Permasalahan: 1. Bagaimanakah sistem registrasi dan dokumentasi koleksi di Museum Batik Yogyakarta? 2. Apakah sistem registrasi dan dokumentasi koleksi di Museum Batik Yogyakarta sudah sesuai dengan standar yang dikeluarkan oleh Direktorat Museum? Tujuan: Mengetahui keserasian antara sistem manajemen registrasi dan dokumentasi yang diterapkan Museum Batik Yogyakarta dengan standar Direktorat Museum, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.
Metode: Penalaran : induktif Sifat penelitian: evaluatif. Pendekatan : evaluasi
Kesimpulan: Setelah melalui tahapan penilaian, maka penilaian untuk mengetahui keserasian antara sistem manajemen registrasi dan dokumentasi yang diterapkan Museum Batik Yogyakarta dengan standar Direktorat Museum Departemen Kebudayaan Dan Pariwisata mendapatkan kategori cukup. Rekomendasi untuk penelitian selanjutnya adalah peneliti dapat memberikan model system manajemen dan dokumentasi yang sesuai dengan standar ICOM, sehingga museum ini nantinya dapat menggunakan system internasional. 
|  | Matahari belum terlalu tinggi, masih jam 6 pagi. Satu persatu truk, mobil bak terbuka, hingga sepeda motor yang dilengkapi kronjot [keranjang anyam berbahan bambu untuk membawa beban berlebih di sisi kanan dan kiri sepeda motor] memasuki halaman pasar hewan Imogiri.
Pasar hewan ini hanya beroperasi setiap pasaran legi dan dipimpin oleh seorang lurah pasar dibantu oleh 9 orang staff. Sebagai pasar hewan terbesar di Kabupaten Bantul serta merupakan satu dari 2 pasar hewan yang tersedia, pasar hewan Imogiri memiliki fungsi yang sangat signifikan dalam sistem ekonomi pada umumnya, seperti: untuk menetapkan nilai, untuk mengorganisir produksi, untuk mendistribusikan barang, untuk mempertahankan dan mempersiapkan keperluan di masa yang akan datang, dan untuk mencegah dominasi akan produk tertentu.
Dikenakannya pajak retribusi sebesar Rp. 3000 untuk hewan besar [sapi, kerbau, kuda, dan sejenisnya], dan Rp. 750 untuk hewan kecil [kambing, domba, biri-biri dan sejenisnya], pada tahun 2009 pasar hewan Imogiri mampu melewati target pendapatan retribusi pasar Kabupaten Bantul sebesar 121.81%. Dengan luas lahan yang hanya sekitar ½ lapangan sepak bola, pasar ini terdiri dari lahan parkir pengunjung, bangunan yang terbuat dari beton dengan fungsi untuk menurunkan hewan dari kendaraan pengangkut hewan, bangunan pengelola pasar, deretan kios penjaja makanan terutama makanan dari olahan daging kambing seperti sate dan gule yang memang menjadi kuliner khas di imogiri, dan ruang utama yang hanya berupa barisan tiang besi seperti pagar yang memanjang untuk menambatkan tali kekang setiap hewan akan dijual. Sebuah bangunan semacam shelter terdapat di tengah-tengah ruang utama tersebut yang berfungsi untuk berteduh, namun kali ini bangunan tersebut digunakan oleh para kaki lima penjual kebutuhan untuk hewan seperti tali kekang, jamu hewan, hingga peralatan rumah tangga seperti pengaman tambahan untuk regulator gas elpiji.
Sebagai tempat dimana pembeli dan penjual bertemu untuk membeli atau menjual barang dan jasa atau faktor-faktor produksi, pasar hewan Imogiri mempertemukan para penjual dan pembeli tidak hanya dari wilayah Imogiri saja, tetapi juga dari wilayah lain seperti Panggang dan Patuk yang merupakan bagian dari kabupaten Gunung Kidul agar roda perekonomian masyarakat dapat terus berputar.
|
|  | Harmonisasi Tradisi Nguras Enceh
Sistem pertanggalan tahun Jawa yang merupakan warisan pendiri dinasti kerajaan Mataram Islam, Sultan Agung masih melekat hingga saat ini. Tahun baru Jawa sendiri memiliki makna mendalam bagi masyarakatnya, beragam aktivitas dilakukan sebagai bentuk pembersihan diri untuk membuang hal-hal yang negatif dan menggantikannya menjadi energi positif serta sebagai media untuk merefleksikan kehidupan selama 1 tahun terakhir.
Di Selatan Jogjakarta, tepatnya di kompleks pemakaman raja –raja Jawa - Imogiri setiap tahun baru Jawa berlangsung ritual “Nguras Enceh”, sebagai bentuk dari pemaknaan pensucian diri tersebut. Konon menurut cerita yang berkembang, pada saat Sultan Agung sedang bertapa mencari petunjuk lokasi yang tepat bagi makamnya, ia kesulitan mendapatkan air untuk berwudhu. Sang Sultan lantas menancapkan tongkatnya ke tanah dan keluarlah air dari dalam tanah. Air inilah yang digunakan untuk mengisi enceh di makam Raja Imogiri hingga saat ini.
Hal yang menjadi tujuan utama para peziarah dan perayah nguras enceh adalah air kurasan enceh dan nasi gurih yang disediakan oleh para kerabat dari masing-masing keraton. Air dimaknai secara universal di setiap kebudayaan sebagai wahana pensucian, dan nasi gurih bagi masyarakat Jawa memiliki makna agar manusia tidak melupakan sang pencipta atas nikmat yang telah diberikan.
Untuk urusan ngalap berkah ini tidak mengenal strata sosial. Perbedaan kekayaan, kehormatan, intelektualitas melebur menjadi satu saat mereka memperebutkan air dari kurasan enceh tersebut, hanya terlihat beberapa keturunan dari penguasa mataram yang mempunyai kewenangan lebih, baik dari pihak keraton Surakarta maupun Yogyakarta, menempati posisi tersendiri diantara masyarakat umum.
Setiap kegiatan yang dihadiri oleh khalayak ramai pastinya secara otomatis akan berdampak para perekonomian masyarakat setempat. Abdi dalam, petugas parkir, penjual botol untuk wadah air kurasan, serta para penjaja kuliner khas imogiri seperti wedang uwuh dan pecel adalah pihak-pihak yang merasakan dampak langsung dari kegiatan ini.
Sinergisasi antara makam raja imogiri [abiotik/ A] – masyarakat peziarah [biotic/ B] dan tradisi nguras enceh [culture/ C] adalah siklus yang bila berlangsung secara dinamis akan menjadi sebuah model harmonisasi pelestarian budaya yang berkelanjutan.
|
|  | Gunung Slamet masih tetap seperti saat pertama kali kumenyambanginya, guyuran hujan dan angin kencang, serta kabut tebal seperti tarian Lenggeran yang mengucapkan selamat datang kepadaku. |
Kraton Ratu Boko
Sebuah prasasti kuno yang dibuat oleh Rakai Panangkaran pada tahun 746-784 Masehi mengatakan bahwa pada awalnya bangunan yang ada di kawasan Wisata Kraton Ratu Boko disebut Abhayagiri Wihara. Abhaya berarti tidak ada bahaya sedangkan Giri berarti bukit/gunung. Wihara mempunyai arti asrama/tempat. Dengan demikian Abhayagiri Wihara berarti asrama/wihara para biksu agama Buddha yang terletak di atas bukit dengan penuh kedamaian.
Prasasti Abhayagiri Wihara yang berangka tahun 792 M merupakan bukti tertulis yang ditemukan di situs Ratu Boko.Dalam prasasti ini antara lain menyebut seorang tokoh bernama Tejahpurnapane Panamkarono. Nama tokoh ini kemungkinan sama dengan Rakai Panangkaran yang disebut dalam prasasti Kalasan 779 M, Prasasti Montyasih 907 M dan Prasasti Wanna Tengah III 908 M. Apabila dugaaan ini benar, maka Rakai Panangkaran adalah seorang Raja dan Syailendra yang terbesar dan paling lama memerintah. Rakai Panangkaran mengundurkan diri sebagai Raja karena menginginkan ketenangan rohani dan memusatkan pikiran pada masalah keagamaan, salah satunya dengan mendirikan wihara yang bernama Abhayagiri Wihara pada tahun 792 M. Hasil karya Rakai Panangkaran pada masa pemerintahannya adalah membangun candi Borobudur, Candi Sewu dan Candi Kalasan.Rakai Panangkaran menganut agama Buddha demikian juga bangunan tersebut disebut Abhayagiri Wihara adalah berlatar belakang agama Buddha, sebagai buktinya adalah : adanya Arca Dyani Buddha. Namun demikian ditemukan pula unsur – unsur agama Hindhu di situs Ratu Boko Seperti adanya Arca Durga, Ganesha dan Yoni.
Prasasti penting lainnya adalah Prasasti Siwagrha yang di buat pada Tahun 856 M, dimana dalam prasasti Siwagrha disebutkan tentang adanya seorang raja yang mengundurkan diri dan menyerahkan tahta kepada anaknya yaitu Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala. Dan prasasti Mantyasih 907 M menyebutkan bahwa raja yang berkuasa sebelum Rakai Kayuwangi adalah Rakai Pikatan yang merupakan seorang penganut agama Hindhu yang berhasil mempersatukan 2 kerajaan yang pernah berkuasa di Jawa Tengah melalui sebuah “Perkawainan Politik”.
Rakai Pikatan dari Dynasty Sanjaya kawin dengan Pramudawardani anak Samaratungga, Raja terakhir dari Dynasty Syailendra yang beragama Buddha. Setelah menjadi satu – satunya Raja di Jawa Tengah, iapun lalu membangun Candi Prambanan yang diresmikan pada tahun 856 M. Peresmian ini diperingati dalam prassasti Siwagrha seperti tersebut di atas, dan oleh karena itu Situs Ratu Boko merupakan perpaduan antara adanya pengaruh agama Buddha dan Hindhu.
Benda – benda peninggalan yang ada di lokasi Situs ini mempunyai kekhususan dan keunikan tersendiri sehingga menimbulkan perbedaaan dari benda – benda arkheologi di masa yang sama. Tidak diketahui secara pasti dari mana asal nama Ratu Boko, namun menurut cerita tutur dari masyarakat setempat, nama itu diberikan berdasarkan cerita legenda “Ratu Boko”, ayah dari Roro Jonggrang.
Pada tahun 1989 – 1990, P. Subroto dalam risetnya menyimpulkan bahwa terdapat beberapa kemiripan antara komponen – komponen yang ada di Situs Ratu Boko dengan beberapa istana kuno di India. Namun apa fungsinya, tidak diketahui secara pasti hingga kini. Apakah bangunan tesebut merupakan sebuah taman kerajaan, istana raja, benteng pertahanan ataukah sebuah biara? Hingga kini masih merupakan misteri.
Situs Ratu Boko berada di Kawasan wisata budaya, 3 Km sebelah selatan Candi Prambanan dan terletak di atas bukit. Dari situs ini dapat dilihat keelokan Candi Prambanan dan Candi Sewu dari atas bukit yang dilatarbelakangi oleh Gunung Merapi. Dilihat dari tinggalan arkheologi yang ada situs Ratu Boko mempunyai corak dan karakter tersendiri bila dibandingkan dengan arkheologi lainnya di Indonesia. Hal ini dapat di lihat adanya beberapa bangunan seperti : Gapura Utama, Candi, Kolam, Gua, Pagar dan Alun – alun.
Melihat bukti – bukti tinggalan kepurbakalaan seperti itu, FDK Bosch dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa situs Ratu Boko merupakan sebuar Keraton yang artinya tempat / istana Raja, dimana hal itu mengindikasikan bahwa situs ini merupakan sebuah pemukiman dan pusat pemerintahan pada masa lalu.
Kawasan Situs Ratu Boko si bagi menjadi beberapa bagian :
Kelompok Pertama :
Berbentuk 3 buah gapura yang saling berdekatan satu sama lain, berdiri dari arah utara ke selatan. Gapura yang di tengah adalah yang terbesar dan merupakan gapura utama, diapit oleh 2 buah gapura lainnya yang disebut gapura apit.
Kelompok kedua :
Berbentuk 5 buah gapura. 4 buah gapura kecil mengapit sebuah gapura yang paling besar, yang disebut Gapura Utama Kedua.
Temple of limestone
Berbentuk sebuah pondasi dengan ukuran 5 x 5 meter persegi, terbuat dari Limestone. Pondasi ini terletak disebelah timur Laut, sekitar 45 meter dari Gapura Utama Pertama.
Temple Of Incineration
Terletak di sebelah Timur Laut, sekitar 37 meter dari Gapura Utama Kedua. Bangunan ini mempunyai panjang 26 meter, lebar sekitar 26 meter dengan ketinggian 3 meter dan terbuat dari batu kali. Di lokasi ini di temukan juga sebuah sumur berukuran 4 x 4 meter persegi di tengah – tengah teras kedua dengan sebuah anak tangga di sisi barat. Sebuah kolam dengan panjang 2 meter dan lebar 1 meter juga di temukan di sebelah tenggara dari sumur tersebut.
Kelompok Paseban
Bentuk bangunan lain yang dapat ditemukan adalah bentuk lantai yang menghampar dari utara ke selatan. Puing – puing dari Gapura, pagar tembok dan slope juga ditemukan di tempai ini.
Kelompok Pendopo
Pondasi berukuran panjang 20 meter, lebar 20 meter dan tinggi 1,25 meter. Terletak di bagian sisi utara. ( 20 round pedestals are found on the floor)
Pondasi Pringgitan
Bantuan panjang 20 meter, lebar 6 meter dan tinggi 1,25 meter. Terletak di sebelah Selatan. Dua bangunan pondasi tersebut dikelilingi oleh pagar sepanjang 40 meter, lebar 36 meter dan tinggi 3 meter ( with decorations having the shape of buds above it). Pagar tersebut mempunyai atap, disisi utara, selatan dan barat. 3 anak tangga di buat untuk naik ke pondasi tersebut.
Pondasi Bangunan Publik
Terletak di sisi luar pagar, sekitar 1,5 meter kearah timur. Berukuran panjang 38 meter, lebar 7 meter dan tinggi 1.5 meter dari arah Utara ke Selatan. Terdapat 4 tangga di sisi Barat (20 pedestals are found on its floor). Terdapat juga 4 grooves yang mungkin di gunakan sebagai tembok partisi.
Candi – candi Kecil
Terletak di sebelah Tenggara dari Pendopo dan di apit oleh 2 buah candi apit. Yang dityengah adalah Candi terbesar dan utama
Keputran
Terdiri dari sebuah kolam bebrbentuk persegi panjang dengan ukuran 31 x 8 meter, di kelilingi oleh pagar dengan 2 buah gapura di sisi Barat Daya dan Timur Laut. Lantai dasar dari bangunan tersebut bebentuk bujur sangkar dengan ukuran 20 x 20 meter dan terdapat ( 28 pedestals) di lantainya.
Gua
Di situs ini terdapat beberapa gua terletak di sebelah selatan dari lereng perbukitan batu. Gua yang berada di bagian atas oleh masyarakat setempat di kenal dengan sebutan Gua Lanang, sedang gua yang dibawahnya disebut Gua Wadon. Untuk menuju ke masing – masing gua dihubungkan oleh sebuah tangga yang langsung di pahatkan pada sebuah tebing. Di depan Gua Lanang dterdapaty sebuah kolam berbentuk segi empat.
__________
Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Jawa Abad IX-X Oleh: Titi Surti Nastiti Dalam buku "Menjaga Warisan Umat Manusia" ~Gambaran Umum~ Dalam tatanan masyarakat Jawa Kuna, orang yang mempunyai kedudukan paling tinggi adalah raja atau ratu. Menurut berita Cina, raja tinggal di istana yang terletak di ibukota kerajaan. Istana raja dikelilingi oleh tembok keliling yang terbuat dari bata dan batang-batang kayu. Di dalam istana yang juga dikelilingi oleh tembok keliling tinggal keluarga raja yang terdiri dari permaisuri, selir-selir dan anak-anaknya yang belum dewasa, dan para hamba raja. Di luar istana tetapi masih dalam dinding kota, terdapat kediaman putra mahkota dan adik-adiknya, dan juga kediaman para pejabat tinggi kerajaan. Mereka itu mendiami rumah-rumah mereka dengan keluarga masing-masing. Rumah-rumah mereka itu terletak dalam perkampungan khusus yang terdapat di dalam lingkungan tembok kota, tinggal bersama para hamba mereka. Di dalam lingkungan tembok kota ini juga tinggal para pejabat sipil yang lebih rendah, yaitu para abdi istana bersama dengan keluarga mereka. Putra mahkota, para pangeran, dan para pejabat tinggi kerajaan kecuali pangkur, tawan, tirip [pejabat yang melakukan pengawasan agar perintah raja dilaksanakan] mempunyai daerah lungguh di luar ibukota kerajaan yang disebut watak. Mereka tidak tinggal di daerah kekuasaan mereka, akan tetapi mereka mampunyai bawahan yang merupakan pejabat elit birokrasi daerah. Mereka mempunyai puri, karena kedudukan mereka sebagai penguasa daerah bersifat turun-temurun. Diantara para penguasa daerah tersebut tidak semua menjadi pejabat tinggi kerajaan. Adalah sumber penghasilan kerajaan adalah dari pajak, kerja bakti, dan denda atas tindak pidana. Pajak dibedakan atas pajak tanah dan pajak hasil bumi, serta pajak perdagangan dan usaha kerajinan. Berapa besarnya pajak yang ditetapkan belum diketahui secara pasti, demikian pula dengan pajak perdangan dan pajak usaha kerajinan. Dalam prasasti hanya disebutkan batasan jumlah barang-barang yang diperdagangkan, baik hasil bumi, ternak, maupun barang-barang hasil industri rumah tangga. Apabila jumlah barang dagangan melebihi dari ketentuan maka sisanya dikenai pajak. Dari Prasasti Pelepangan [906 M] diketahui, adanya kenakalan para pemungut pajak. Dalam prasasti disebutkan tentang para petugas pajak yang mengukur kembali luas tanah penduduk karena mereka keberatan membayar pajak tanah yang ditetapkan, karena menurut mereka tanahnya tidak seluas yang ditetapkan oleh petugas pajak. Setelah diukur kembali ternyata tanah mereka lebih kecil dari yang telah ditetapkan sehingga pajak mereka pun dikurangi. Untuk mencapai suatu negara yang makmur diperlukan pemerintah yang memperhatikan rakyatnya, apalagi pemerintah pun memerlukan keperluan hidupnya dari desa. Adanya saling ketergantungan antara pemerintah pusat dan desa dituliskan dalam Kakawin Ramayana yang menuliskan bahwa antara raja dan rakyat harus bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan satu sama lain. Rakyat yang memasok kebutuhan pokok di ibukota harus dilindungi. Oleh karena itu, penguasa mempunyai kewajiban memperhatikan pembangunan di semua bidang, termasuk didalamnya infrastruktur seperti bendungan untuk mendukung sektor pertanian dan jalan, serta jembatan untuk memudahkan transportasi antar desa dan maupun dari desa ke kota. Menurut berita Cina, negara ini menghasilkan emas, perak, cula badak, gading garahu, adas manis, lada, pinang, belerang, dan kayu secang. Penduduknya telah mengenal pembuatan sutera, mereka memelihara ulat sutera dan menenun sutera tipis, sutera kuning, dan kain yang terbuat dari katun. Rumah mereka indah dan dihiasi dengan genting berwarna kuning dan hijau. Dari relief-relief yang terdapat di Candi Prambanan, dan Candi Borobudur dapat diketahui bawah rumah mereka berupa rumah panggung. Rumah-rumah panggung yang terdapat di dalam relief prambanan diantaranya ada yang digambarkan beratap genting. ~Agama~ Prasasti-prasasti pada awal masa mataram kuna, seperti prasasti Tuk Mas yang berasal dari pertengahan abad ke-7 M, dan prasasti Canggal menunjukkan agama yang dianut pada masa itu adalah agama Hindu. Namun dalam Prasasti Saukhara dari pertengahan abad ke-8 M disebutkan bahwa Sangkhara telah pindah dari agama Siwa ke agama Buddha karena ia takut kepada gurunya yang tidak benar setelah ayahnya sakit dan wafat. Atas dasar keterangan prasasti tersebut dapat dikatakan bahwa agama Hindu dan Buddha telah dikenal dalam masyarakat mataram kuna. Kedua agama yang berasal dari India tersebut, makin lama makin berkembang di Jawa yang dibuktikan dengn candi-candi Hindu dan Buddha yang ditemukan hampir di seluruh wilayah Jawa Tengah, diantaranya adalah Candi Sewu dan Prambanan. Selain candi Borobudur, candi agama Buddha yang besar adalah komplek candi Sewu. Candi sewu dihubungkan dengan Prasasti Kelurak yang berangka tahun 782 M dan pada tahun 792 M bangunan suci tersebut pernah diperluas oleh seorang Nayaka. Di dalam kedua prasasti tersebut, Candi Sewu disebut sebagai bangunan Manjusrigerha. Candi Prambanan yang merupakan komplek candi agama Hindu terbesar yang terletak di sebelah selatan komplek Candi Sewu. Candi Prambanan dihubungkan dengan Prasasti Siwagerha yang memuat angka tahunnya dengan Candrasangkala yang berbunyi walung gunung sang wiku [778 saka atau 856 M]. isinya menyebutkan tentang peresmian sebuah bangunan suci untuk Dewa Siwa yang sebut dengan Siwagerha atau Saiwalaya oleh Jatiningrat atau Rakai Pikatan [850-856 M]. Ia kemudian menyerahkan tahta kepada Dyah Lokapala atau Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala [856-882 M]. Di dalam Prasasti Siwagerha juga diuraikan secara terperinci mengenai sebuah komplek bangunan suci agama Hindu yang diidentifikasi sebaga Candi Siwa Prambanan. Sementara itu, dalam teks Ramayana menggambarkan candi Siwa yang terdapat dalam alengka sesuai dengan komplek Candi Prambanan , karena menurut Poerbatjaraka ketika penggubah kakawin Ramayana menuliskan bagian tersebut, yang dibayangkan adalah Candi Prambanan.
~Mata Pencaharian~ Di luar ibukota kerajaan, terdapat desa-desa yang diatur oleh para pejabat desa. Penduduk desa yang disebut anakwanua pada umumnya hidup dari bertani, mencari ikan, berdagang, mengusahakan industri rumah tangga. Sebagai negara agraris yang menjadi tulang punggung ekonomi kerajaan di Jawa adalah hasil pertanian. Seperti disebutkan dalam berita Cina, beras telah menjadi komoditi ekspor. Dari relief candi Borobudur ada beberapa adegan yang melukiskan laki-laki dan perempuan pergi ke ladang, dan juga ada yang menggambarkan laki-laki sedang membajak sawah. Selain itu, ada adegan yang menggambarkan sekelompok orang sedang mengikat dan memukul padi. Sementara di Candi Brahmana Prambanan terdapat adegan perempuan sedang menumbuk. Adegan-adegan yang terdapat dalam relief tersebut mencerminkan bahwa masyarakat Jawa pada masa itu menggantungkan hidupnya dari sector pertanian. Selain pertanian, mata pencarian penduduk adalah membuat kerajinan atau produksi rumah tangga lainnya yang dilakukan di waktu senggang. Data prasasti menyebutkan adanya produksi rumah tangga yang diproduksi untuk dijual, seperti gula aren, minyak kelapa, minyak jarak, barang-barang keperluan sehari-hari seperti arang, kampur, tembikar, dan barang-barang anyaman. Pada relief candi Borobudur terdapat relief yang menggambarkan orang sedang membuat tembikar dan membakar gerabah. Selain itu juga digambarkan seorang laki-laki memikul gerabah, mungkin tembikar-tembikar tersebut akan dijual. Masyarakat Jawa pada abad 9-10 M telah mengenal perdagangan baik perdagangan lokal, regional, dan internasional. Penduduk desa telah menerapkan koncep pancawara, yaitu satu minggu yang terdiri dari lima hari dengan sistem pemukiman mancapat atau panatur desa, yaitu satu desa dikelilingi oleh empat desa yang terletak di keempat penjuru mata angin. Penerapan konsep ini dengan mengatur rotasi hari-hari pasar pada desa-desa tertentu. Jalur sungai mempunyai peranan yang tidak kecil dalam perdanganan. Di daerah-daerah sepanjang sungai-sungai dan muara-muara sungai di tepi pantai inilah bermunculan desa-desa yang kemudian menjadi kota-kota pusat kegiatan niaga, pelayaran dan penyeberangan antar desa. Mengenai adanya desa-desa yang mempunyai tambangan sebagai tempat penyeberangan dapat diketahui dari Prasasti Telang [903 M] yang menyebutkan adanya tempat tambangan di Desa Telang, Desa Mahe, dan Desa Parapahuan bagi perahu yang menghubungkan kedua tepi sungai untuk menaikkan dan menurunkan barang dan penumpang setiap hari tanpa dipungut biaya. Adanya perdagangan internasional menyebapkan adanya pedagang-pedagang asing yang harus tinggal dalam masa tertentu, antara lain karena harus menunggu musim yang baik untuk pelayaran. Dari beberapa prasasti dapat diketahui adanya orang-orang asing yang menetap di Jawa, karena warga asing ini disebut warga kilalan, yaitu orang-orang yang dikenakan pajak. Mereka berasal dari Vietnam, Kamboja, Myanmar, Srilangka, dan India.
~Hukum~ Pejabat yang berurusan dengan pengadilan disebut sebagai sang pamagat yang disingkat menjadi samgat atau samget. Keputusan pengadilan dapat berupa pidana atau perdata. Menurut berita Cina, masyarakat Jawa pada masa itu tidak mempunyai hukuman badan. Semua pelanggaran hukum dihukum dengan membayar denda berupa emas. Jumlah denda sesuai dengan jenis pelanggarannya. Hukuman mati hanya berlaku bagi perampok dan pencuri
~Kesenian~ Masyarakat Jawa pada masa itu telah mengenal seni sastra dan seni pertunjukan. Satu-satunya teks sastra yang ditemukan adalah Kakawin Ramayana yang digubah pada masa Rakai Watukara Dyah Balitung [898-910 M] dianggap lebih muda daripada pendirian kompleks Candi Prambanan yang didirikan pada masa pemerintahan Rakai Pikatan. Mungkin, karena itulah mengapa antara relief Ramayana di candi Siwa dan kakawin Ramayana banyak sekali perbedaannya sehingga sulit diterima apabila kakawin tersebut dijadikan pedoman pembuatan relief. Kakawin Ramayana yang mengisahkan cerita Rama dan Sinta, sampai saat ini masih popular dikalangan masyarakat Jawa. Seni pertunjukan yang telah dikenal pada masa itu adalah seni musik, seni suara, seni tari, dan seni drama. Alat-alat musik yang dimainkan adalah seruling, gendang, kecer atau simbal, wina [semacam kecapi], gong, dan lain-lain, seperti yang banyak digambarkan pada relief Borobudur dan candi Prambanan. Selain itu didalam prasasti disebutkan bermacam-macam seni pertunjukan seperti lawak [mabanol], seni suara [widu, mangidung], tari-tarian yang ditarikan bersama oleh laki-laki dan perempuan, orang tua dan remaja, tari topeng, maupun tarian-tarian khusus. Adegan orang yang sedang menara, baik tari solo maupun yang dibawakan oleh beberapa orang, banyak dipahatkan pada relief-relief di Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Tarian-tarian tersebut ditarikan oleh laki-laki maupun perempuan, ada yang diiringi musik dan tanpa musik. Dalam Prasasti Poh [905 M] disebutkan adanya gadis penari keliling untuk pertunjukan tarian-tarian oleh dua laki-laki sebagai pengiringnya, mungkin pertunjukan tersebut semacam teledhek. Di Candi Prambanan terutama di pagar langkan Candi Siwa banyak melukiskan adegan tarian dan musik. Berbeda dengan Candi Borobudur penari maupun pemain musik yang dipahatkan pada relief dipagar langkan Candi Siwa, hampir semuanya laki-laki seperti yang digambarkan di atas, yaitu tarian dan ditarikan tiga orang penari laki-laki. Selain tarian, pada pagar langkan Candi Siwa banyak digambarkan orang yang bermain gendang, diantaranya ada yang menggambarkan empat orang laki-laki beriringan memainkan gendang seperti pertunjukan reog sekarang. Selain lawak dan tari, pada masa itu telah dikenal pertunjukan wayang kulit [mawayang] maupun wayang orang [wayang wang]. Dalam Prasasti Wukajana disebutkan dari masa pemerintahan Rakai Watukura Dyah Balitung disebutkan adanya pertunjukan wayang kulit dengan lakon Bhima Kumara [Bhima Perjaka atau Bhima Jatuh Cinta] yang merupakan sempalan dari cerita wiraraparwa. ~Daftar Pustaka~ de Casparis J.G. “Selected Inscriptions From the 7th to 9th Century A.D.”, Prasasti Indonesia II. Bandung: Masa Baru, 1956. Groeneveldt, W.P. Historical Notes on Indonesia and Malaya, Compiled From Chinese Sources. Jakarta: Bharatara, 1960. Krom, N.J. Barabudur. Archaeological Description, 2 jilid. The Haque: Martinus Nijhoff, 1927 Nastiti, Titi Surti. Pasar di Masa Mataram Kuna. Abad VIII-XI Masehi. Jakarta: Pustaka Jaya, 2002. Santoso, Soewito. Ramayana Kakawin, 3 Jilid. Singapore. The Institute of South Asian Studies; New Delhi: International Academy of Indian Culture, 1980. Zoetmulder, P.J. Kalangwan. Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Jakarta: Penerbit Djambatan, 1983.
| |